Assalamualaikum wr.wb
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat illahi robbi tuhan semesta alam. karena berkat rahmat dan karunianya kita masih diberi kesempatan untuk mengecap nikmatnya kehidupan di dunia. shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan kita, nabibana wa nabiyana Muhammad SAW, juga kepada para keluarga, sahabat, tabi'it dan tabia'atnya sampai kepada kita selaku umat akhir zaman.
Pada bulan ramadhan yang penuh berkah ini, saya ingin membahas suatu materi yang berisikan tentang bagaimana pandangan islam terhadap pacaran dan apa saja hal-hal yang ditimbulkan bagi penikmat pacaran itu sendiri. simak terus artikel inspiratifnya....
Sahabat muslimin dan muslimat, betapa islam sangat melarang keras umatnya untuk berpacaran. karena begitu banyak hal-hal mudharat yang terhasil dari pacaran yang salah satunya adalah perbuatan zina. macam-macam zina yang terhasil dari pacaran adalah saling memandang yang artinya zina mata, zina saling berandai-andai yang artinya zina qalbu, saling berpegangan yang artinya zina tangan, saling melontarkan kata-kata gombal yang artinya zina lisan dan bahkan yang lebih parah adalah melakukan hubungan intim yang artinya zina kemaluan. na'udzubillah.
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan munkar. dan suatu jalan yang buruk (Q.S Al-Isra': 32)
tidak semua pacaran mengarah pada zina, tapi justru zina berawal dari pacaran. dalam islam, adakah dalil yang memperbolehkan pacaran sebelum menikah? Tidak ada! bahkan, pacaran itu bukanlah sebuah sunat di dalam islam sendiri.
tidak ada pacaran sebelum menikah, namun zaman sekarang justru banyak orang yang menjadikan status jomblo sebagai pangkat terendah dan berusaha mencapai pangkat tertinggi dengan cara berpacaran. sungguh pemikiran yang sangat sempit
mungkin diantara mereka memang belum tahu akan hal itu, maka dengan segenap permohonan kepada setiap pembaca artikel ini untuk membagikannya kepada publik agar mereka menjadi tahu. dan semakin mereka tahu, mereka semakin merasa malu :)
Banyak orang yang menempuh pernikahan dengan jalan bepacaran. sungguh mereka itu adalah orang-orang yang rugi karena menghabiskan masa muda/mudi dengan penuh kemaksiatan dan penuh kesia-siaan. parahnya lagi, tidak sedikit yang menjalani pacaran itu adalah orang yang justru paham akan agama dan mengaku sebagai umat muslim/muslimat. Astaghfirullah.
hal tersebut terjadi karena budaya barat yang dengan ganasnya menyerang umat islam. zaman sekarang, seseorang dikatakan jomblo ketika dirinya "Tidak laku". lah? kok disamakan dengan barang dagangan? perkataan itulah yang menjadi tekanan bagi seseorang yang dikatakan jomblo untuk mencari pacar. nahasnya, sang jomblo tersebut berpikiran sempit dengan menjadikan budaya barat tersebut sebagai suatu kewajiban dan kemoderenan masa kini. katanya, zaman sekarang kalau jadi jomblo itu memalukan dan kudet alias kurang update, kurang gaul dan ketinggalan zaman. kalau begitu kiranya saya ingin bertanya,
"Jomblo yang harus malu sama orang yang pacaran atau justru orang yang berpacaranlah yang semestinya malu pada para jomblo?"
Hmmm.. coba sobat renungkan andaikata kita lebih memilih untuk menjadi jomblo karena alasan menghindari zina dan kemaksiatan yang membuat hidup sia-sia, maka insya Allah hidup kita lebih mulia dibandingkan orang yang berpacaran. kenapa sih, pacaran itu seakan menjadi kewajiban? apa karena zaman yang kekinian? atau mungkin karena merasa malu disebut jomblo? ah! cobalah jangan menjadikan pacaran itu sebagai kewajiban, maka kamu tidak akan merasa tertekan saat kamu disebut sebagai jomblo. karena kalau kamu sadar, jomblo itu lebih mulia ketimbang orang yang berpacaran
dalam islam tidak ada hadits maupun dalil yang mengatakan bahwa jomblo itu sesuatu perbuatan yang memalukan. tapi bagi seseorang yang miskin iman dan memiliki pemikiran rendahan, tentu jomblo adalah suatu hal yang menakutkan. masih malu jadi jomblo?
Oke kembali ke dalam topik pembahasan. Tidak ada pacaran sebelum menikah.
begitu banyak hal yang sia-sia karena pacaran. konon katanya, pacaran juga ada manfaatnya sebagai penyemangat hidup. mitos! semangat dalam hidup itu tidak ada hubungannya dengan pacaran karena semangat dalam hidup itu hadir ketika kita optimis dan bertekad kuat untuk mewujudkan sesuatu.
Rasulullah SAW pun tidak mencontohkan gaya hidup berpacaran pada semasa hidupnya. lalu kita sebagai pengikutnya apakah akan mengingkari seluruh suri tauladan yang dicontohkan oleh Rasulullah? hmmm... jika iya, itu berarti kamu tidak mencintai Rasulullah sebagai junjungan umat islam.
Khususnya bagi kaum akhwat, jadilah wanita mulia. jangan maulah di bodoh-bodohi oleh kaum ikhwan yang mengajakmu bermaksiat dengan cara berpacaran. kalau dia memang mencintai kamu, dia tidak akan mengajakmu berpacaran. sejatinya, mencintai itu mengarahkannya agar selamat dunia dan akhirat, bukan malah menjerumuskannya ke dalam lubang maksiat. jangan mau diajak berdua-duan dalam ikatan yang belum hahal. jangan mau menjadi wanita yang dengan mudahnya disentuh dan dipegang layaknya seorang pelacur yang hina. tapi jadilah wanita yang bagaikan seorang ratu kerajaan yang tidak dengan mudahnya disentuh dan dipegang oleh rakyat jelata.
Jangan sekali-kali salah seorang diantara kaum pria berdua-duaan dengan seorang wanita karena yang ketiganya adalah setan. (H.R at-Tirmidzy)
Bisikan setan untuk menghasut seorang pria dan wanita yang berdua-duaan itulah yang seringkali menjerumuskan kalian ke dalam lubang maksiat. lihat? jadi itu yang disebut mencintai? dengan menjerumuskannya ke dalam lubang maksiat. na'udzubillah
sudahlah, berhentilah berpacaran dengan niat melanjutkannya ke jenjang pernikahan. karena dalam islam tidak ada pacaran sebelum menikah. halalkan atau tinggalkan!
lalu jika dalam islam tidak ada pacaran sebelum menikah, bagaimana caranya kita menempuh pernikahan tanpa berpacaran?
jawabannya adalah dengan melakukan ta'aruf atau melakukan silaturahmi dengan mendatangi rumah sang calon mertua. berbicara dengan baik-baik, katakan bahwa kedatangan kamu bersama keluarga adalah untuk melamar sang pujaan hati. selain itu, bertanyalah berbagai hal yang berkaitan dengan sang calon pendamping hidup. biasanya hal ini dilakukan oleh pihak laki-laki
Perbedaan antara pacaran dan ta'aruf itu adalah, pacaran lebih kepada menikmati kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. sedangkan ta'aruf itu lebih kepada kenikmatan menjaga diri dalam ta'at, menanti apa yang Allah rencanakan dan menemui titik nikmat yang tiada batas pada suatu waktu tertentu.
pertanyaannya, pacaran dulu baru menikah atau menikah dulu baru pacaran?
kalau menurut saya sih lebih baik menikah dulu baru pacaran dalam ikatan yang sah dan halal. karena pemikiran saya seperti ini:
ketika pacaran dulu baru menikah, maka setelah menikah, kisa-kisah indah itu hanya menjadi hal biasa dan sesaat karena semua keindahan cinta telah pernah dirasakan ketika berpacaran. namun ketika menikah dulu baru berpacaran, kisah-kisah indah itu menjadi hal yang luar biasa dan berakhir panjang karena keindahan cinta belum pernah mereka jalin sebelumnya. apakah ada yang sepemikiran dengan saya?
Maka dari itu telah jelas semua kesimpulannya, bahwa dalam islam tidak ada pacaran sebelum menikah. mulai sekarang jangan malu disebut sebagai jomblo karena jomblo itu lebih mulia daripada orang yang berpacaran. halalkan pasanganmu atau tinggalkan sekarang juga!
karena lebih indah berta'aruf dan menjaga diri dalam ta'at ketimbang menikmati pacaran yang berujung maksiat
Semoga apa yang disampaikan dalam seluruh artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya. walau sedikit yang penting ilmu. semoga dengan membaca artikel ini kalian menjadi tahu dan menjadi malu. akhir kata saya ucapkan billahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum wr.wb
Ilman Mualiman
0 Response to "Tidak Ada Pacaran Sebelum Menikah"
Posting Komentar