Setiap orang pasti punya caranya sendiri dalam menghibur diri. Entah itu ketika ia bosan ataupun ketika ia sedang bersedih karena suatu alasan. Saya sendiri lebih suka menghibur diri dengan cara... Menulis. Nah bingung kan? Kalau biasanya orang menghibur diri dengan cara Shopping, Hangout, Bermain Bola, ataupun Menonton Film Komedi di Bioskop, saya lebih suka menghibur diri dengan cara menulis. Dibuatnya artikel ini pun bertujuan agar pembaca dapat terinspirasi untuk menuangkan pemikirannya ke dalam bentuk tulisan. Semoga saja yaaa hehehe...
Ada beberapa alasan mengapa Menulis itu bisa menjadi pengibur diri, pelipur duka disaat lara, penghapus kesedihan disaat patah hati. Nah, lagi-lagi galau kan? Baiklah, langsung saja...
Yang pertama adalah, menulis itu artinya mencurahkan segala hal yang terkandung dalam pemikiran kita. Katanya, jika suatu permasalahan bisa kita bagi kepada orang lain dengan cara mencurahkannya dan bertujuan untuk mencari solusi, maka hal tersebut dapat sedikit mengurangi beban permasalahan dan membuat diri menjadi lebih plong. Nah, begitu pula dengan Menulis. Karena menulis itu artinya mencurahklan seluruh pemikiran yang ada dalam pikiran kita, entah itu berupa pemikiran ide, gagasan, nasehat, kesedihan ataupun suatu permasalahan yang kemudian kita curahkan dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, mencurahkan pemikiran kita ke dalam bentuk tulisan setidaknya dapat membuat diri menjadi lebih tenang. Tapi, setiap hal yang dituliskan itu harus berupa pemikiran positif dan bukan pemikiran negatif *plak
Maksudnya adalah, setiap hal yang kita tuliskan itu harus mengandung nilai inspirasi dan solusi bagi orang lain. Terutama, buatlah sebuah tulisan yang dapat membuat orang lain menganggukan kepala seraya berkata "oh iya, benar juga ya". Hal yang tidak lazim untuk dituangkan ke dalam tulisan adalah pemikiran yang diutarakan lewat tulisan namun justru mengandung unsur menghina maupun unsur negatif seperti ini:
Mantanku menghianatiku. sungguh sedih hati ini melihatnya. dulu ia yang ku anggap sebagai seseorang yang mirip Aliando, sekarang ia ku anggap mirip Almarhum
Nah loh? Jangan menuangkan sebuah pemikiran yang bersifat negatif. Mencurahkan permasalahan ke dalam tulisan itu bukanlah sesuatu hal yang haram. Hanya saja, ada batas-batas tertentu apabila kita ingin menuliskan sebuah hal ke dalam tulisan itu sendiri.
Tulislah sesuatu yang akan membuat dirimu dan orang lain bangga. Buatlah dirimu sebagai sosok yang akan dikenang karena tulisan-tulisannya.
Tulislah sesuatu sewajarnya saja tanpa ada unsur menghina apalagi mencaci maki. Seperti ini misalnya:
Aku adalah sosok pengagum dirimu yang mencintaimu dalam diam. Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan. Rasanya, untuk cemburu pun aku tak berhak. Biarlah, aku serahkan saja semuanya pada sang maha cinta yang lebih tahu kepada siapa hati ini akan berlabuh.
Ahhhh, indahnya... Begitulah ketika kita sanggup menghibur diri dengan cara menulis. Wuarbyasah!
Oke lanjut!
Yang kedua, menulis itu adalah sesuatu yang juga dapat menghasilkan pahala. Hmmm... menulis mendapatkan pahala? Yups! Bagaimana caranya? Caranya adalah, dengan cara menuangkan ilmu yang kita miliki ke dalam tulisan itu sendiri. Tentunya ilmu yang bermanfaat dan bukan ilmu merakit bom! *plak
Ingatlah, bahwa Allah senantiasa menghitung pahala orang-orang yang membagikan ilmu bermanfaat terhadap orang lain. Seperti halnya Guru, Dosen, Kyai, Ustadz dan lain sebagainya, mereka itulah yang pahalanya tiada terputus. Subhanallah...
Nah, kita sebagai seorang yang bukan Guru, Dosen, Kyai, Ustadz, bisa saja membagikan ilmu lewat tulisan yang kelak akan Allah ganjar dengan pahala yang akan menjadi pemberat di mizan kelak.
Jadi, menulis itu tak hanya mengibur diri melainkan juga mendapatkan pahala terhadap ilmu yang kita bagikan lewat tulisan. Sambil menyelam, minum kopi *ehh lebih tepatnya minum air.
Namun perlu dicatat juga, bahwa apa yang kita tulis, maka itu juga yang akan kita pertanggung jawabkan.
Semua penulis akan mati, hanya karyanyalah yang akan terus abadi. Maka tulislah sesuatu yang dapat membahagiakan dirimu di akhirat nanti. (Sayyidina Ali Bin Abi Thalib)
Oleh sebab itu, berpikirlah sebelum bertindak, cerna dulu sebelum menulis. Kelak, pahala dari menulis itulah yang akan membuat kita sadar bahwa ilmu yang terus kita pendam dalam diri itu semakin lama semakin tebuang sia-sia layaknya sebuah galon yang terus diisi oleh air hingga tak tertampung lagi. Maka, hiburlah diri dengan mencari pahala kebaikan dengan cara menulis... Siap? *ngangguk-ngangguk
Yang ketiga, menulis adalah imajinasi yang sangat luas. Ibaratnya kita bermain-main sambil menjelajahi isi otak dan berusaha menemukan sesuatu yang halal untuk dituliskan. Terkadang kita juga ingin menuliskan sesuatu yang ada di masa lalu. Dengan demikian, nalar kita seakan berjalan-jalan di dalam otak dan berusaha menemukan memori-memori yang terdapat di masa lalu tersebut untuk kemudian dituliskan. Duh, jadi flashback deh!
Pengalaman ini seperti halnya menghibur diri dengan cara menonton film di bioskop. Sambil memutar pemikiran kita jauh kepada masa lalu, sambil kita juga mengingat-ngingat hal apa saja yang pernah terjadi pada masa lalu tersebut. Apakah sedih, bahagia, ataupun lucu sekalipun. Ya, seperti halnya dengan menonton film di bioskop...
Itulah beberapa alasan mengapa saya lebih suka mengibur diri dengan cara menulis. Semoga dengan dituliskannya artikel ini dapat menginspirasi kepada setiap pembaca yang mungkin akan mulai berkarya dalam bidang tulisan dan dapat memberikan ilmu, motivasi serta inspirasi bagi orang lain. Semoga saja O:)
Akhirul kata, saya ucapkan terima kasih kepada pembaca yang berkenan meluangkan waktunya. Mohon maaf apabila ada salah-salah kata. Saya juga manusia, tempatnya salah dan lupa.
Billahi taufik wal hidayah, Wassalamu'alaikum wr.wb
Catatan: saya juga sedang bosan, jadi menghibur diri dengan menulis artikel ini deh hehehe.. *abaikan
0 Response to "Menghibur Diri Dengan Menulis"
Posting Komentar